Pages

Jumat, 18 Maret 2011

Hari Bersamanya #6



Deg. Stephani ketakutan. Namun, ia masih tidak kehilangan akal. Sesegera mungkin ia menghubungi temannya, Meko untuk menelpon polisi. Karena, dalam situasi seperti ini tidak mungkin ia sendiri yang harus menelpon polisi. “yeah terkirim. Tinggal tunggu”
Karena Hani sibuk mengirim sms pada temannya itu, tanpa ia sadari di luar sudah terjadi perkelahian hebat. Ia lihat Fauzi sedang bertarung dengan 2 orang laki-laki yang berbadan lebih besar. Walaupun Fauzi itu pemilik ban hitam dalam taekwondo, namun jika lawannya seperti itu ia bisa saja kalah. Apalagi mereka memiliki senjata. Hani bingung. Apa ia harus turun, atau tetap di dalam mobil. Ia berusaha tenang dan berpikir, namun tidak bisa. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dan membantu Fauzi .
Dan tepat saat Hani keluar dari mobil, terdengar suara Fauzi teriak kesakitan. Ternyata leher dan pipinya tersayat oleh kapak si lelaki berbadan besar itu. Kontaks Hani menjadi semakin khawatir. Dan tanpa pikir panjang, ia langsung menghampiri Fauzi . Ia juga sempat menendang alat vital dari salah satu lelaki itu.
Saat Hani hendak mengajak Fauzi untuk kembali masuk ke dalam mobil, tak disangka lelaki itu kembali mengacungkan kapaknya itu ke arah kepala Hani. Karena Hani membelakangi si lelaki itu, ia pun tidak mengetahuinya. Untungnya, Fauzi dengan sigap langsung melempar Hani ke samping mobil dan ia pun  menangkis acungan kapak yang tadi hendak di tujukan pada Hani dan langsung memberikan tendangan memutar yang sepertinya sangat bertenaga itu.
Tangan Fauzi berdarah. Berdarah sangat deras. Hani teriak histeris dan sesegera mungkin menghampiri letak berdirinya Fauzi . Saat si lelaki yang satunya hendak memukul kepala Fauzi dengan sebuah balok kayu yang ia pungut di pinggir jalan, terdengar suara sirine mobil polisi mendekat.
 “Jangan bergerak !” teriak salah satu polisi sambil mngacungkan pistolnya ke kepala si penjahat.
Selama polisi-polisi itu menangani si penjahat, Hani dan Miko yang kebetulan saat itu ikut bersama polisi, segera membawa Fauzi ke rumah sakit terdekat untuk mengobati luka-lukanya. Di perjalanan, Hani merasa sangat ketakutan karena ia takut terjadi apa-apa pada Fauzi . Namun, Fauzi yang saat itu masih dalam keadaan sadar, berusaha menenangkan Hani dengan berpura-pura tidak merasakan kesakitan. Padahal sebenarnya, luka di tangannya itu terasa panas. Kalo bukan ada Hani di situ, mungkin Fauzi sudah tidak kuat lagi untuk bertahan.
-aaa-
“Gimana keadaan Fauzi dok?” tanya Hani cemas.
“Sekarang mba tenang saja. Keadaan pacar mba sudah membaik, luka-lukanya juga hanya luka ringan. Dan untungnya, tidak ada yang berakibat fatal, dan ia sudah boleh pulang sekarang juga. Saya permisi dulu” ucap dokter.
Disaat khawatir seperti itu, Hani masih sempat-sempatnya berbicara sendiri mendengar perkataan dokter tadi. “pacar? Waw gapapa sih. Amin aja deh hihi”
“Lo kenapa? Senyum-senyum sendiri gitu. Gila lo” ucap Fauzi tiba-tiba.
“aha? Gapapa ko, udah yuk kita balik. Biar gue yang bawa mobil.”  Ujar Hani sambil lalu memapah Fauzi ke tempat parkir.
“Meko mana? Seinget gue, tadi dia ada bareng lo”
“oh iya, dia udah balik duluan tadi. Udahlah gausah banyak ngomong dulu deh lo” celetuk Hani.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar