Risya masih sibuk dengan laptopnya, mengerjakan tugas yang diberikan oleh Bu Eni yang-sebenernya-bukan-tugas-Risya, ya melainkan tugas akademis Bu Eni. Hmm, ya memang inilah resiko yang diterima Risya karena terlalu dekat dengan guru. Bahkan entah apa yang ada dipikirannya, sampai magrib ini pun ia masih setia mengerjakan tugas wali kelasnya itu. Ya tapi tak apalah, lumayan kadang dapet traktiran makan di kantin ~ muhihihi
"Ris, dipanggil temenmu tuh diluar. Udah biarin aja dulu tugasnya, samperin dulu sana temenmu" panggil Bu Eni sambil membuka buku agendanya. Risya pun berjalan keluar, dan mendapati teman-teman sekelasnya sudah ramai dengan kendaraan mereka masing-masing. Mereka ngapain? Oiya aku lupa, malam ini kan ada acara ulangtahunnya Nurul. Ah sepelupa inikah aku...
"Woy Ris! Masih lembur lo? Mau ikut ke pestanya Nurul ga?" Sania menyadarkan lamunan Risya.
"Eh? Iya nih masih ada setengah lagi.. gimana ya? Gaenak sama Bu Eni gue, males pula kalo besok gue harus lembur lagi" Jawab Risya.
"Yakin jadi ga akan ikut nih? Gue tunggu deh, kasian masa elu nyusul sendiri. Anak-anak yang lain kan tuh barusan pergi. Eiya, gue ikut boncengan Gia ya, lu sama Rino aja, oke?" Cerocos Sania sambil mengedipkan mata pada kalimat terakhirnya itu. Sama Rino? ah kaya yang dianya mau boncengin gue aja...
"Emm, gausah San. Kalo kalian mau pergi duluan sih duluan aja. Tar kalo sempet gue nyusul, kalo engga ya titip salam aja ke Nurulnya ya..."
"Udah deh, nih masukin aja kerjaan lo ke flashdisk gue, ntar besok gue bantu selesein tugas lo. Ayo buru beres-beres, gausah lama!" Potong Rino
"eh? em...ta-tapi.." belum sempat Risya menyelesaikan bicaranya, Rino sudah mendorong tubuhnya untuk kembali ke ruangan Bu Eni. Karena Risya masih kebingungan, jadi Rino lah yang membereskan persiapan Risya saat itu. Dimulai dari memindahkan tugas, sampai meminta izin pada Bu Eni pun Rino yang bicara.
"Eh yaudah kalo kamu mau pergi gapapa Ris, maaf ya ibu ngerepotin kamu. Oiya, salam buat Nurul ya, sampein permintaan maaf ibu karena gabisa datang. Selamat berpesta bro" ucap Bu Eni dengan gayanya yang jenaka itu. Inilah yang membuat Risya dekat dengan wali kelasnya itu, selain baik, Bu Eni juga kocak dan ga kalah gaul dari murid-muridnya.
Karena takut telat, Risya tidak sempat pulang dan hanya memakai pakaian seadanya. Kemeja kotak-kotak warna biru, dan celana jeans yang dipadukan dengan sepatu biru tanpa hak. Di perjalanan, Rino tiba-tiba menghentikan motornya, melepaskan jaket dan menyerahkannya pada Risya.
"nih pake"
"eh? gapapa nih? tau aja lo gue lagi kedinginan haha"
Selesai Risya memakai jaketnya, Rino pun kembali memacu kendaraannya. Kali ini lebih cepat karena terlihat motor Gia sudah semakin jauh.
Entah apa yang harus Risya lakukan, karena tiba-tiba Rino meraih tangannya dan melingkarkannya di pinggangnya sendiri. Ia menoleh dan berkata, "Pegangan yang kuat, jangan sampe lo kelempar pas gue ngebut nanti" sambil tersenyum hangat. Risya bengong, dan mengikuti tarikan tangan Rino untuk memeluknya. Setelah merasa yakin Risya aman, Rino melepaskan tangannya dan memacu kendaraanya lebih-lebih cepat lagi. Kaya lagi balapan liar aja, pikir Risya. Jantungnya terasa hampir copot, namun ia seperti merasakan sesuatu perasaan yang lain. Mungkin.....Nyaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar