Pages

Kamis, 12 Juli 2012

One Day with Davon

Sampai malam ini, Risa masih saja uring-uringan di kamarnya. Ia bingung, apa yang harus ia lakukan pada kekasihnya itu. Sudah hampir 1 bulan, Tomi pacarnya bersikap sangat dingin . Entah apa penyebabnya, tak ada yang tau. Berulang kali ia bertanya dan mencoba menghangatkan kembali hubungannya itu, namun selalu saja gagal. Tampaknya Tomi sudah mulai bosen padanya, atau apa, yang pasti itu sangat membingungkan. Apabila ditanya, Tomi selalu memberikan jawaban yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan Risa. Tak heran kalau selama sebulan inipun Risa selalu galau.
Bukannya Risa tak mau segera menyudahi kegalauannya, tapi dia masih ragu jika harus mengakhiri hubungannya dengan Tomi. Tak sedikit pula temannya yang memberikan petuah ini-itu untuk memberikan jalan keluarnya. Tapi ya.. bukankah kurang baik jika mengambil keputusan disaat ragu? begitu pikirnya.
Besok paginya, Risa memutuskan untuk menemui Tomi di sekolah. Awalnya ia berniat untuk mengajak Nike, sekaligus meminta bantuan apabila mereka menemukan jalan bantu nanti. Tapi sayangnya Nike ada acara keluarga, jadi dengan berat hati Risa pergi menemui Tomi sendirian.
Memang sayang beribu-ribu kali sayang, nasib baik mungkin sedang tidak berpihak padanya. Setibanya ia di sekolah, ternyata Tomi baru saja pulang 10 menit yang lalu. Kecewa, amat-sangat-kecewa. Itu yang dirasakan Risa saat ini. Untungnya, ketika ia berniat untuk kembali pulang, Davon datang menghampiri. Melihat wajah Risa yang ditekuk seperti perut gajah itu, Davon tidak tega untuk membiarkan Risa pulang sendiri. Davon berniat untuk mengajaknya jalan-jalan sambil sedikit-sedikit menghibur Risa. 
"Lo kenapa sih Ris? Soal Tomi lagi?" tanya Davon sambil mengendarai motornya.
"Hm? ya gitulah. Siapa lagi?" jawab Risa lemas.
"Ampun deh Ris, kenapa lagi sih kalian? Lagian kan udah gue bilangin, buat apa mertahanin hubungan sepihak? Yang ada lo makan ati terus kali!" ucap Davon gemas.
"Please Dav, gue lagi males debat. Iya gue tau gue mungkin bodoh buat mertahanin hubungan ini. Tapi gue masih belum siap buat kehilangan Tomi. Gue harap lo ngerti yang gue rasain sekarang" pinta Risa.
"Hhh, yaudahdeh. Kalo lo emang tetep keukeuh sama hubungan lo. Tapi please jangan pertahanin ekspresi muka lo yang ditekuk terus gitu, jelek tau!" ledek Davon. Risa memukul punggung Davon, lalu tertawa.
Tak disangka, Davon membawa Risa ke Cafe favoritnya. Cafe Bubble. Merekapun pesan makan dan mengobrol tanpa kehabisan topik. Setelah dari sana, Davon mengajak Risa untuk memboncenginya keliling kota. Canda tawa memenuhi obrolan mereka. Bahkan Davon hampir menyenggol tukang Baso yang berhenti di pinggir jalan, karena mereka tak henti-hentinya bercanda. Karena tak mau hal buruk terjadi lagi, mereka lebih memilih untuk berhenti di pinggir pantai. Menghabiskan waktu dengan melihat orang-orang di sekililing mereka. Hangat, bahagia, nyaman. Itu yang mereka rasakan satu sama lain, walaupun tak ada yang mengungkapkannya secara langsung. Risa merasa harus sangat berterima kasih pada Davon, karena dengan kehadirannya, ia pun tidak harus galau berlarut-larut ketika gagal ketemu Tomi tadi. Harusnya rasa ini muncul saat gue lagi sama Tomi. Tom, kenapa sih lo berubah? Gue kangen lo yang dulu, ucap Risa dalam hati. Kenapa gue ngerasa lebih enjoy dan bahagia kalo lagi sama Davon, dibanding sama Tomi? Ayolah Ris jangan kebawa suasana, inget lo masih punya Tomi! lagi-lagi Risa berperang dengan hatinya sendiri. Menyangkal semua yang ada di hadapannya hanya untuk Tomi. 
Karena tak mau semakin terlarut dengan keadaan, akhirnya Risa memutuskan untuk mengajak Davon pulang, karena kebetulan matahari sudah tergantikan oleh cahaya bulan. Tak terasa ia sudah menghabiskan waktu seharian bersama Davon. Setibanya ia di rumah, ia mengucapkan banyak rasa terimakasihnya untuk Davon karena mau menemaninya hari ini. 
"Oke Ris no problem, emang kebetulan guenya juga lagi pengen jalan-jalan tadi. Dan kebetulan ketemu lo. Jangan galau lagi ya, udahlaah ga pantes lo ngegalauin terus cowo yang udah ga peduli sama lo. Buka mata lo. Disini ada gue Ris, gue yang selalu ada buat lo..." ucap Davon sambil mengacak-acak rambut Risa.
"Okedeeh, diusahain hahaha" seru Risa sambil berlalu meninggalkan Davon. Thanks for today ucap mereka dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar