Ketika filmnya sedang iklan, ia mulai teringat akan kejadian
beberapa bulan yang lalu. Kejadian yang hampir membuat hubungannya dengan
sahabatnya terganggu. Persis seperti yang ada di film. Entah kenapa, Laras
tiba-tiba emosi dan melemparkan remote tv yang tadi di pegangnya.
Ia kecewa pada dirinya sendiri. Kenapa aku sebego itu
sih? Kenapa aku mau sama Tomi? Ah menyebalkan ! hal itu kembali mengganggu
pikirannya. Teringat ketika ia mendengar
bahwa Sheila menangis karena ulahnya. Karena Laras berhubungan dengan mantan
pacar Sheila. Sheila, sahabat baiknya sejak kelas 7 itu, telah ia kecewakan. Ia
telah membuat sahabat terdekatnya menangis. Bukankah itu adalah sebuah hal bodoh?
Lebih bodohnya lagi, saat itu Laras tidak memiliki perasaan
special sedikitpun pada Tomi. Yang akhirnya, secara tidak langsung dia justru
telah menyakiti perasaan 2 orang sekaligus ! Bagus sekali bukan?
“Coba waktu itu aku dikasih sedikit kesempatan buat mikir
sama Tomi. Aku pasti ga akan mau nerima Tomi. Dan semua ini ga akan terjadi”
ucap Laras pada dirinya sendiri. Hanya penyesalan yang dapat ia rasakan saat
ini. Menyesal, menyesal, sungguh sungguh menyesal.
Meskipun sepertinya sekarang Sheila telah melupakan kejadian
pahit itu, tapi tetap saja rasa bersalah yang menyelimuti Laras tidak pernah
hilang. Masalahnya, sekarang Laras merasa hubungannya dengan Sheila sudah tidak
sehangat dulu. Dan hal itu, sungguh membuat Laras terus merasa berada dalam
lingkup rasa bersalah.
Sampai detik ini, jikalau ia teringat dengan kejadian itu,
ia masih tetap merasa bersalah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar